Kamis, 06 Februari 2014

Hisanori Sato : Saya kangen Indonesia

16136358
Tinggal bertahun-tahun di Indonesia ternyata meninggalkan kesan mendalam pada diri Hisanori Sato, seorang profesor dan peneliti asal Jepang. Berbagai hal menarik dijumpainya di sini. Kisah-kisah tersebut ia tuangkan dalam bukunya berjudul Kangen Indonesia : Indonesia Di Mata Orang Jepang.

Buku tersebut berisi semua ceritanya dari awal datang ke Indonesia hingga saat ia harus kembali ke negara asalnya, ia sangat rindu pada Indonesia. Sato pada awalnya cukup frustasi dan stres akibat benturan budaya saat pertama kali tinggal di Indonesia. Namun hal tersebut tak berlangsung lama karena ia merasa akan rugi jika dirinya seperti itu terus. Ia pun mulia membaur dan mempelajari kebiasaan masyarakat Indonesia hingga ia menemukan banyak pelajaran tak ternilai ketika hidup bersama masyarakat Indonesia.

Jepang, di mana orang-orangnya dikenal sangat menghargai waktu membentuk Sato menjadi pribadi yang disiplin dalam berbagai hal. Ia sempat tertegun pada awal-awal tinggal di Indonesia. Waktu begitu mudah dikondisikan, atau istilah populernya “jam karet”. Ia juga terheran-heran dengan pandangan hidup sebagian besar masyarakat Indonesia yang mudah merasa cukup dan selalu menerima apa adanya. Namun Sato melihat nilai positifnya di sini. Masyarakat Indonesia menurutnya bukan orang-orang yang tak menghargai waktu, justru mereka adalah orang-orang yang punya kendali besar atas waktu. Menurutnya orang Indonesia menghargai proses, mereka menikmati proses dari suatu usaha dan menrima hasilnya apa adanya sesuai proses yang telah mereka lakukan. Hal ini berbeda dengan Jepang atau negara barat yang menurut Sato semuanya serba tergesa-gesa dan diburu waktu. Waktu 24 jam sehari seperti tak cukup hingga orang-orang terlalu tenggelam dalam dunianya masing-masing, bahkan untuk sekedar tersenyum dan mengobrol dengan tetangga pun tak sempat. Para pekerja di Jepang dan negara-negara berat menurut Sato dalam bukunya, begitu terkekang oleh waktu. Di Indonesia, manusianyalah yang punya kendali atas waktu, mereka bebas dan tak terkekang.

Ia mencoba hidup dalam ketidaknyamanan di Indonesia. Kemana-mana ia selalu menggunakan bis kota ataupun angkutan umum lain. Ia juga berusaha membaur dengan lingkungan sekitar. Kedekatannya dengan mantan presiden Gusdur tak membuat dirinya enggan bersahabat dengan seorang penjual makanan kaki lima di dekat apartemennya. Sato pun sempat menjadi pengamen di bus kota, semata-mata hanya untuk mengetahui bagaimana cara bertahan hidup orang-orang di kalangan bawah.

Sato kerap memperhatikan kebiasaan orang Indonesia saat berpidato. Ia heran kenapa banyak orang di Indonesia bisa berpidato tanpa teks dan dengan gaya yang retoris, serta banyak kalimat yang terucap spontanitas. Di negara asalnya, orang yang berpidato akan menggunakan teks sehingga lamanya ia berpidato pun sudah ditentukan dari panjang tidaknya teks. Cara mereka berpidato pun lebih kalem dan cenderung serius. Ia sangat jarang menjumpai hal spontanitas di Jepang. Saat ia ditunjuk sebagai penerjemah dialog antara pejabat Jepang dengan pejabat Indonesia, dirinya mengkritik gaya pejabat Jepang tersebut, tak bisakah berpidato dengan lebih santai dan spontan seperti orang Indonesia?

Kebiasaan makan orang Indonesia pun tak luput ia amati. Ia menyukai cara sebagian besar orang Indonesia menyantap makanan dengan langsung menggunakan tangan, tanpa sendok, garpu ataupun sumpit. Menurutnya hal tersebut menunjukan kedekatan dengan alam.

Sato yang awalnya begitu frustasi dan stres, kini saat telah kembali ke Jepang merasa begitu rindu pada Jepang. Dalam buku Kangen Indonesia ia bercerita ia begitu merindukan nasi goreng Indonesia, rindu pada berbagai hal yang tak terjadwal, rindu jika bepergian jarak dekat dengan bis kota, ia bisa membayar separuh saja, dan rindu pada sapaan-sapaan ramah dari berbagai orang tak dikenalnya saat dijalan. Ia rindu tersenyum dan bertegur sapa dengan orang-orang saat berpapasan, ataupun obrolan-obrolan yang sebenarnya tak penting namun begitu hangat dan menghibur dengan para tetangga. Hal yang tak berani ia lakukan saat di Jepang ataupun saat bertugas di negara barat.

Keramahan dan rasa persahabatan orang Indonesia begitu membekas dalam diri Sato. Ia juga menyatakan kekagumannya dengan banyaknya perayaan-perayaan umat agama di Indonesia dan toleransinya.

Membaca buku ini kita tersadarkan, justru oleh seorang asing. Filosofi hidup orang Indonesia dalam menghadapi persoalan, menurutnya merupakan pelajaran berharga bagi dirinya. Sato mengungkap kekuatan tersembunyi bangsa Indonesia yang menurutnya bahkan dapat menginspirasi orang-orang di negaranya. Pandangan hidup yang selalu melihat suatu hal sebagai proses dan sikap menerima apa adanya. Catatannya seperti menganjurkan kita untuk bercermin dan memahami negeri kita sendiri dari sudut yang berbeda, sudut yang mungkin lama diabaikan. Sato menemukan pelajaran tak ternilai dari Indonesia, begitupun kita yang telah menerima pesan berharga tentang negeri kita sendiri, dari seorang profesor Jepang bernama Hisanori Sato.



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgHO996oW6vn0oeStB45m55bAcxrWdNRWeNaf-vrUM8-1nU96QgJRIq3JYR_FuKdN60tynsQCfWphrgaxchl3ga0RmQiUKolWcTG6OMvtnhE3-y2goYQiQH4C5J_B0_VzNVKOBZt5aiRtM/s1600/Ojigi.jpg
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar